Sejarah GKJ Arcawinangun
GKJ Arcawinangun hadir sebagai buah dan kesaksian tentang karya Tuhan yang setia menuntun umat-Nya melalui iman, ketaatan, dan kepemimpinan yang dibangun dalam semangat kebersamaan. Gereja ini lahir dari kerinduan sederhana beberapa keluarga Kristen—antara lain keluarga Suryadinata, T. Purwoatmodjo, Wartam Puspoatmodjo, Seno Karto Darsono, dan Asmawiradji—yang pada sekitar tahun 1960 dengan setia mengikuti kebaktian di Grendeng sebagai bagian dari pelayanan GKJ Purwokerto. Keterbatasan jarak dan jumlah jemaat yang menurun mendorong lahirnya langkah iman untuk menghadirkan peribadatan yang lebih dekat dan terjangkau bagi jemaat.
Dengan persetujuan Majelis GKJ Purwokerto, jemaat mulai beribadah di rumah-rumah. Dalam kesederhanaan itulah iman dipelihara dan ditumbuhkan. Para pendiri—yang berasal dari kalangan terdidik menunjukkan kepemimpinan yang rendah hati, tertib, dan selaras dengan tata gereja presbiterial. Mereka tidak hanya merintis ibadah, tetapi juga menanamkan teladan kolegialitas, kebersamaan, dan kesatuan, bahkan di tengah dinamika sosial-politik yang tidak mudah.
Pelayanan rohani pada masa awal ditopang oleh Pdt. Sukarso Djojosuwito bersama GI. Susetyo Prawirosudirjo. Melalui sarasehan, pendalaman Alkitab, dan persekutuan rumah tangga, jemaat bertumbuh baik secara rohani maupun jumlah. Firman Tuhan bekerja menjangkau masyarakat sekitar, melahirkan pertobatan dan baptisan. Pertumbuhan ini menjadi tanda bahwa pelayanan dijalankan dengan kesungguhan dan pemeliharaan iman yang bertanggung jawab.
Ketika rumah tidak lagi mampu menampung jumlah jemaat, Tuhan membuka jalan melalui tersedianya sebidang tanah di wilayah Arcawinangun, dengan dukungan pemerintah desa. Dalam semangat gotong royong dan kasih persaudaraan, jemaat bergandengan tangan membangun rumah Tuhan. Keringat para pemuda, ketulusan para pemudi, serta kesediaan para sesepuh menjadi persembahan yang hidup bagi Allah.
Langkah iman berikutnya terjadi pada tahun 1967 dengan membeli dan memindahkan rumah kayu jati dari Lumbir menjadi tempat ibadah sementara. Hingga akhirnya, pada 25 Mei 1972, gedung gereja permanen diresmikan dan jemaat yang beribadah di Arcawinangun dikenal sebagai Pepanthan Arcawinangun. Walau pembangunan meninggalkan hutang, jemaat belajar tentang tanggung jawab, kepercayaan, dan pengharapan. Melalui dukungan lintas gereja dan kerja keras bersama, seluruh hutang dapat dilunasi.
Pertumbuhan jemaat mendorong kerinduan untuk menjadi gereja yang dewasa. Proses pendewasaan ini ditempuh dengan pembinaan, penilaian klasis, dan kesediaan jemaat belajar mengelola dirinya. Pada 1 Januari 1978, Pepanthan Arcawinangun didewasakan menjadi GKJ Arcawinangun. Kepemimpinan majelis pertama menandai lahirnya gereja yang bertanggung jawab penuh atas pelayanan, keuangan, dan kesaksiannya.
Adapun Majelis Pertama GKJ Arcawinangun adalah sebagai berikut:
Tua-tua:
- Bpk. Yokas Yosowiharjo
- Bpk. Suwardi Wiryodihardjo
- Bpk. Sumarno Ks.
- Bpk. Pudjo Sanyoto
- Bpk. Mastur Widjaja
Diaken:
- Bpk. Ralim Tirtoatmodjo
- Ibu Sunaryatmi
Pendeta Konsulen:
- Pdt. Widjojo Hadipranoto, Sm.Th.
Pentahbisan Pdt. Sudjatmoko, Sm.Th. pada 3 Januari 1981 sebagai pendeta pertama menjadi tonggak penting. Dengan kemajelisan yang lengkap, GKJ Arcawinangun mulai menata kehidupan bergereja secara lebih terarah. Program pemeliharaan iman, pengaderan, kesaksian sosial, dan perencanaan jangka panjang dikembangkan.
Memasuki masa emeritus Pdt. Sudjatmoko pada tahun 1999, gereja kembali belajar tentang transisi kepemimpinan. Pentahbisan Pdt. Sukarmo, S.Th. pada 15 Oktober 2001 membawa warna kepemimpinan pastoral yang kuat untuk meneguhkan gereja sebagai rumah bersama. Buah pelayanan tampak dalam pembangunan gedung gereja baru yang mulai digunakan pada Natal 2018.
Setelah berproses dari 2022-2026, pada tanggal 13 April 2026 dilaksanakan penahbisan atas diri Vikaris Amos Renoardi, S.Th. M.Si sebagai pendeta GKJ Arcawinangun. Sejarah ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan kesaksian tentang Tuhan yang setia membentuk gereja melalui iman, kepemimpinan yang melayani, dan kesediaan umat-Nya untuk terus berjalan bersama dalam terang kasih Kristus.
Dokumentasi Perjalanan Iman


